Sejarah Desa

            Menurut cerita tutur dari tetua masyarakat sejarah Desa Sigambir telah berlangsung setidaknya sejak jaman perang pada waktu jamanya Bupati Pusponegoro dimana pada waktu itu untuk menghadapi perang tanding mengucapkan sumpah kepada kuda tunggangannya apabila menang dalam perang si kuda dipersilahkan memilih jodohnya. Akan tetapi selama dalam perjuangannya Bupati mendapatkan kemenangan sehingga si Kuda tunggangnya menagih janji dan memilih seorang Ronggeng dikala itu dan menurut cerita karena antar manusia dan kuda tidak wajar maka kuda itu di tembak di karangbirahi sehingga tempat tersebut dinamakan karang birahi, dalam alur perjalanan membawa bangkai/mayat tersebut jalannya ke timur dan biasanya kalau membawa mayat dikasih bunga-bunga maka setelah sampai di Gandasuli terus jalan lagi menuju ke utara, setelah sampai di Gandasuli mempunyai bau wangi yang menyengat wangi dari bunga-bunga tersebut makanya daerah itu dinamai Gandasuli. Terus jalan lagi menuju ke utara setelah di utara jalan membawa/memikul keranda tersebut lelah dan akhirnya gantian yang membawa/memikul keranda tersebut dan sekarang daerah itu dinamai Limbangan berasal dari kata limpahan terus menuju ke arah barat. Sesampainya di sebelah barat gedung nasional alat yang digunakan pikulan tersebut putus maka dari itu daerah tersebut dinamai daerah sangkal putung. Setelah sampai disitu kemudian menuju ke arah utara dan dalam perjalanan tersebut banyak yang melihat dan ramai seperti pasar. Akan tetapi yang dibawa adalah bangkai bahasa jawanya batang maka daerah tersebut di namai pasarbatang, yang akhirnya kuda tersebut dikubur di Pasarbatang makam pinggir sawah tetapi mayat si ronggeng gambir terus saja dibawa ke arah utara yang akhirnya di kubur di sebelah utara dan sekarang daerah ini dinamakan Desa Sigambir yang sampai sekarang ada bekas/nisan Ronggeng Gambirnya.